Senin, 04 Februari 2013

Sejarah Peradaban Manusia


A.    Zaman Batu
1.      Zaman Paleolitik (Zaman Batu Tua)
Kebudayaan yang mempergunakan kapak batu genggam dinamakan kebudayaan paleolitik. Selain perkakasnya yang sederhana, penghidupan manusianya pun sangat sederhana. Mereka belum mempunyai tempat tinggal yang tetap. Mereka mendapatkan makanan tergantung pada hasil alam. Dengan demikian mereka itu adalah manusia pengumpul hasil alam (food gathering) atau manusia peramu.
Manusia yang hidup pada kala ini mungkin telah memakai pakaian tetapi pakaian mereka itu jenis dan bahannya sangat sederhana bahannya terbuat dari kulit kayu atau binatang.
2.      Zaman Mesolitik (Zaman Batu Tengahan)
Zaman mesolitik menurut perkiraan berkembang sejak lebih kurang sepuluh ribu sampai empat ribu tahun yang lampau. Jenis manusia yang hidup pada zaman misolitik terdiri dari jenis manusia Austro-Melanesoid.
Zaman mesolitik telah ditemukan batu-batu perkakas seperti pisau kecil alat penusuk, penggaruk dan lain-lain. Mereka tinggal didalam gua-gua dan mungkin pula mereka itu tinggal di tepi pantai atau ditepi danau. Mereka telah mulai hidup menetap walau dalam taraf peralihan.
3.      Zaman Neolitik (Zaman Batu Baru)
Zaman ini menurut perhitungan mulai berkembang di Indonesia pada 1500 tahun sebelum masei.
2

Kehidupan setengah menetap, berburu dan menangkap ikan sesudah melewati waktu yang lama mulai ditinggalkan orang. Namun kejadian ini berlaku secara bertahap dan berangsur-angsur, tidak sekaligus. Setelah itu manusia itu mulai hidup menetap, dan mereka mulai bercocok taman. Pada zaman ini orang telah mengenal pacul, beliung atau perimbas, blincung, dan pahat. Benda-benda dari zaman neolitik jenisnya ada 3 macam, yaitu : Kapak lonjong, kapak persegi, dan kapak bahu. Kehidupan manusia pada zaman Neolitik telah menetap, mempunyai permukiman dan karenanya telah bermasyarakat dalam tata susunan yang teratur.

B.     Zaman Logam
Zaman batu baru yang makan wakyu beribu tahun, kemudian beralih kezaman baru yang mengenal penggunaan benda logam. Peralihan itu terjadi karena bertambahnya pengetahuan dan kepandaian manusia.
Zaman logam di negara kita dimulai dengan zaman perunggu. Dalam zaman perunggu manusia jawa barat telah mempunyai kepandaian menuang biji logam itu menjadi benda-benda dan perkakas yang diinginkan. Benda-benda diproduksi dalam bentuk kapak corong dan candrasa. Teknik menuang perunggu itu ada 2 macam yaitu bevalve dan tuangan acire perdue.
Perkembangan seni budaya manusia jawa barat pada masa Prasejarah digambarkan dalam beberapa hal sebagai berikut :
  1. Dinding batu sebuah tebing terdapat lukisan berupa goresan –goresan menyerupai jari-jari kaki binatang.
  2. Seni gosok benda perhiasan dan perkakas telah mulai dikerjakan orang juga, kendati adanya daya seni tersebut masih terselubungi oleh keadaan rahasia, gaib dan magis.
  3. Seni tuang perunggu, dimana logam perunggu diubah menjadi suatu benda perhiasan yang diinginkan.
  4. Seni hias, Seni hias gores sebenarnya telah berkembang semenjak manusia Jawa Barat berkenalan dengan benda-benda gerabah.
  5. Masyarakat pada zaman Prasejarah telah mengenal tari – tarian.
  6. Seni bangun.

C.    Manusia Prasejarah
Manusia zaman Prasejarah telah hidup menetap dan telah bercocok tanah. Kehidupan bercocok tanam mendekatkan manusia kepada adanya kepercayaan. Karena mereka berharap mendapatkan hasil yang baik. Harapan-harapan itu ditujukan kepada arwah-arwah ghaib.
3
 
Perkembangan zaman logam di Indonesia, khususnya telah membawa perjalanan sejarah manusia menuju Gerbang kehidupan yang lebih maju. peninggalan-peninggalan yang bersifat sakral yang meliputi bangunan candi, seni pembuatan patung atau arca baik yang bersifat ciwa, wisnu maupun budha dan lain sebagainya.
1.      Pithecantropus Erectus Artinya: manusia kera yang berjalan tegak. Ditemukan oleh Eugene Dubois di Trinil pada tahun 1891. Fosil yang ditemukan berupa tulang rahang bagian atas tengkorak, geraham dan tulang kaki. Fosil ini ditemukan pada masa kala Pleistosen tengah.
-         Tinggi badan sekitar 165 – 180 cm
-         Volume otak berkisar antara 750 – 1350 cc
-         Bentuk tubuh & anggota badan tegap, tetapi tidak setegap megantropus
-         Alat pengunyah dan alat tengkuk sangat kuat
-         Bentuk graham besar dengan rahang yang sangat kuat
-         Bentuk tonjolan kening tebal melintang di dahi dari sisi ke sisi
-         Bentuk hidung tebal
-         Bagian beltakang kepala tampak menonjol menyerupai wanita berkonde
-         Muka menonjol ke depan, dahi miring ke belakang
2.      Homo
Homo Soloensis Fosil Homo soloensis ditemukan di Ngandong, Blora, di Sangiran dan Sambung Macan, Sragen, oleh Ter Haar, Oppenoorth, dan Von Koenigswald pada tahun 1931—1933 dari lapisan Pleistosen Atas. Homo Soloensis diperkirakan hidup sekitar 900.000 sampai 300.000 tahun yang lalu. Volume otaknya mencapai 1300 cc.
Menurut Von Koenigswald makhluk ini lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan Pithecanthropus Erectus. Diperkirakan makhluk ini merupakan evolusi dan Pithecanthropus Mojokertensis. Oleh sebagian ahli, Homo Soloensis digolongkan dengan Homo Neanderthalensis yang merupakan manusia purba jenis Homo Sapiens dari Asia, Eropa, dan Afrika berasal dari lapisan Pleistosen Atas.
-         Volume otaknya antara 1000 – 1200 cc
-        
4
 
Tinggi badan antara 130 – 210 cm
-         Otot tengkuk mengalami penyusutan
-         Muka tidak menonjol ke depan
-         Berdiri tegak dan berjalan lebih sempurna
-         Hasil Budaya

D.    Anatomi Manusia Purba
Manusia purba memiliki kerangka yang kokoh, mengindikasikan bahwa mereka hidup bergantung kepada fisik; ini bisa berarti bahwa manusia modern anatomis, dengan rangka yang ramping, menjadi lebih bergantung kepada teknologi daripada kekuatan fisik untuk memenuhi tantangan lingkungan.
Homo sapiens purba juga memiliki bubung alis (tonjolan lapisan tulang di atas rongga mata). Dengan munculnya manusia modern anatomis, bubung alis secara signifikan berkurang, dan pada manusia modern mereka, rata-rata, samar-samar terlihat. Fitur pembeda lainnya dari MMA adalah tonjolan dagu, sesuatu yang tidak ada pada Homo sapiens purba umumnya
Memiliki dahi vertikal dimana leluhur mereka memiliki dahi yang miring ke belakang. Menurut Desmond Morris, dahi yang vertikal pada manusia tidak hanya menaungi otak yang besar, tapi tonjolan dahi memainkan peran penting dalam komunikasi manusia lewat pergerakan alis mata dan kerutan kulit dahi.

0 komentar:

Poskan Komentar